Geopark Ciletuh di Sukabumi, Jawa Barat, telah lama menjadi primadona bagi para pecinta touring karena pemandangan alamnya yang spektakuler, yang mempertemukan perbukitan hijau dengan hamparan laut selatan. Namun, belakangan ini, suasana di jalur tersebut berubah menjadi suram setelah terjadinya serangkaian peristiwa fatal yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Ciletuh. Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memicu kebijakan drastis dari pemerintah setempat dan pengelola kawasan. Banyak pihak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi sehingga jalur ini kini terlarang bagi kendaraan berkapasitas mesin besar?
Penyebab utama dari pelarangan tersebut berakar pada meningkatnya angka kecelakaan maut yang melibatkan moge dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Jalur Ciletuh memiliki karakteristik medan yang sangat menantang; tanjakan yang sangat curam, tikungan tajam “leher botol”, serta kondisi aspal yang sering kali licin akibat embun laut dan tumpahan oli. Tragedi memuncak ketika terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan rombongan motor besar yang kehilangan kendali saat menuruni bukit, mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur jalan yang parah. Kejadian ini menjadi titik balik bagi otoritas keamanan untuk mengevaluasi kelayakan kendaraan berat dan bertenaga tinggi untuk melintasi jalur wisata tersebut.
Alasan lain mengapa jalur ini kini terlarang adalah karena faktor kerusakan lingkungan dan gangguan ketenangan ekosistem Geopark. Suara bising dari knalpot motor-motor besar dianggap mengganggu satwa liar yang dilindungi di kawasan tersebut serta merusak kenyamanan wisatawan lain yang mencari ketenangan alam. Geopark Ciletuh dirancang sebagai kawasan wisata berkelanjutan yang mengedepankan kelestarian alam, sehingga kehadiran konvoi motor besar yang sering kali memicu kemacetan dan polusi suara dianggap sudah tidak sejalan dengan visi tersebut. Akibatnya, kebijakan pembatasan akses untuk moge pun diberlakukan dengan pengawasan ketat di gerbang masuk utama.
Meskipun kebijakan ini menuai protes dari komunitas otomotif, pengelola tetap bersikeras demi mencegah terulangnya Tragedi Ciletuh di masa depan. Mereka berargumen bahwa keselamatan nyawa jauh lebih penting daripada kebebasan menyalurkan hobi berkendara. Jalur alternatif kini telah disediakan bagi para rider yang ingin menuju wilayah pesisir Sukabumi, namun jalur ikonik yang membelah perbukitan utama tetap ditutup rapat untuk kendaraan roda dua dengan kapasitas mesin di atas 500cc. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa jalan raya adalah fasilitas publik yang menuntut tanggung jawab penuh, dan setiap kecerobohan bisa berdampak pada hilangnya akses bagi seluruh komunitas.
