Riding Menembus Badai: Pengalaman Menegangkan HDCI di Sukabumi

Berkendara dengan motor gede sering kali diasosiasikan dengan menikmati pemandangan indah di bawah sinar matahari yang cerah. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu seindah itu, terutama ketika rombongan harus menghadapi cuaca ekstrem yang datang tiba-tiba. Salah satu perjalanan yang paling membekas di ingatan para anggota komunitas adalah saat melakukan agenda Riding Menembus Badai. Jalur yang dikenal memiliki kontur berbukit dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini memberikan tantangan yang luar biasa ketika badai tropis melanda di tengah perjalanan.

Kejadian bermula saat rombongan baru saja melewati area perkebunan teh yang biasanya menyuguhkan udara sejuk. Tanpa peringatan yang jelas, langit berubah menjadi gelap pekat dan angin kencang mulai mengguncang motor-motor besar yang memiliki profil aerodinamis yang cukup lebar. Di jalur menuju Sukabumi ini, visibilitas turun secara drastis hingga hanya menyisakan jarak pandang beberapa meter saja. Ini adalah momen di mana teknik berkendara dan mental seorang rider benar-benar diuji sampai batas maksimal. Suara deru mesin Harley yang keras seolah tenggelam oleh suara petir dan hantaman air hujan yang sangat deras.

Kondisi jalanan yang licin dan banyaknya tikungan tajam di wilayah tersebut menambah daftar kesulitan dalam pengalaman menegangkan ini. Mengendalikan motor dengan bobot lebih dari 300 kilogram di atas aspal yang tertutup aliran air yang membawa lumpur membutuhkan ketenangan yang luar biasa. Para peserta turing harus menjaga ritme tarikan gas agar ban tidak kehilangan traksi (spin). Di sinilah peran road captain menjadi sangat krusial, di mana instruksi harus diberikan secara tepat melalui isyarat lampu atau alat komunikasi radio untuk memastikan seluruh anggota tetap berada dalam formasi yang aman dan tidak ada yang terpisah.

Selama badai berlangsung, tidak ada tempat untuk berteduh yang memadai di jalur tersebut. Berhenti di bawah pohon besar justru berisiko tinggi terkena sambaran petir atau dahan yang patah, sementara berhenti di pinggir jalan yang sempit dapat membahayakan pengguna jalan lain. Alhasil, rombongan terpaksa terus melakukan riding dengan kecepatan sangat rendah sambil menahan hantaman angin samping (crosswind) yang sangat kuat. Setiap detik terasa sangat lama, dan fokus para rider hanya tertuju pada lampu belakang rekan di depannya. Keselamatan bersama menjadi satu-satunya prioritas yang dipikirkan oleh setiap anggota saat itu.